• HIPERTENSI

    Hipertensi adalah kondisi dimana ada peningkatan tekanan darah non fisiologis ,dengan syarat tekanan darah systole >140 mmHg dan atau tekanan darah diastole > 90 mmHg.

  • WASPADA GIGITAN ANJING (RABIES)

    Rabies adalah penyakit yang di sebabkan oleh virus Lyssa dan menular dengan cara zoonosis (hewan ke manusia) yang hampir selalu berakibat fatal setelah timbulnya gejala klinis.

  • ANAFILAKSIS (REAKSI ALERGI)

    Anafilaksis adalah jenis reaksi alergi, di mana sistem kekebalan tubuh merespon zat-zat berbahaya lain dari lingkungan. Tidak seperti reaksi alergi lain anafilaksis dapat membahayakan nyawa dan sifatnya cepat.

Selasa, 09 Agustus 2016

SKABIES (KUDIS)


Skabies (kudis) adalah  penyakit  kulit  yang disebabkan oleh tungau  Sarcoptes  scabei.  Skabies  bukan termasuk penyakit berbahaya bagi manusia tetapi sensasi rasa  gatal terutama  pada  malam  hari  merupakan  gejala  utama  yang sering mengganggu  aktivitas  penderitanya.
Faktor  resiko timbulnya penyakit antara  lain, sosial ekonomi  yang  rendah,  higiene  yang  buruk, dan  sering memakai handuk bersama.  Skabies cenderung  tinggi  pada  anak-anak  usia  sekolah,  remaja  bahkan  orang dewasa (Siregar, 2005).

Berdasarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi penyakit skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Menurut Departemen Kesehatan RI (1987) prevalensi skabies di puskesmas di seluruh Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,6 % -12,95 % dan menduduki urutan ke tiga dari dua belas penyakit kulit tersering. Prevalensi terbanyak skabies berasal dari murid di pondok pesantren kondisinya bervariasi. (Ma’rufi et al. (2004)
 
Masa inkubasi skabies



CARA PENULARAN SKABIES
Penularan skabies sendiri bisa secara langsung maupun tidak langsung,
Penularan langsung : 1. berjabat tangan
             2. berhubungan seksual
             3. bermain bersama (anak-anak)
Penularan tidak langsung : biasanya pada pakaian, kasur, selimut,alat makan, dan handuk.


GEJALA KLINIS SKABIES
Penyakit skabies memiliki gejala yang hampir khas biasanya akan timbul :
   1. Pruritus nocturnal / gatal di malam hari , dikarenakan          aktivitas tungau ini akan meningkat pada suhu lembab          pada malam hari
   2. Menyerang lebih dari 1 orang , misalkan seseorang yang      terkena penyakit ini akan menulari orang terdekatnya            terutama keluarga
   3. Adanya gambaran terowongan di tempat yang gatal , hal       ini merupakan tanda khas pada skabies (kudis)
   4.  Pada penyakit yang lama biasanya akan timbul luka iritasi     akibat garukan dan muncul pus/ nanah , biasanya pada        sela sela jari, lipatan paha, kepala, dan leher.

PENGOBATAN SKABIES

Cara mengobati skabies (kudis) dengan menggunakan obat obatan topikal (oles) yang sudah tersedia di pasaran seperti :
  1.  Emulsi benzil-benzoas (20-25%)
Obat ini efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama  tiga hari, dioleskan keseluruh tubuh kecuali mata.
Efek samping : iritasi,  dan  kadang-kadang  makin  gatal  setelah dipakai
  2. sulfur presipitatum  4-20%
obat ini tersedia  bentuk  salep  atau  krim.  Kekurangannya  ialah  berbau  dan mengotori  pakaian  dan  kadang-kadang  menimbulkan  iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
  3. Permetrin  5% ( krim )
  4. Krotamiton  10% (krim) , obat ini juga berguna untuk anti   gatal

    Selain dengan pengobatan di atas, anda harus membersihkan rumah seperti merendam air panas semua pakaian, selimut, sprei, dan juga menjemur kasur dan sofa, untuk menghindari kambuhnya penyakit.

   Bila dalam seminggu belum ada perubahan , coba konsultasikan ke dokter kulit terdekat.

PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit skabies (kudis) ini sangatlah penting untuk mengurangi penularan dan terkena kembali , cara mencegah skabies (tungau) misalnya  :
a. Menjemur kasur dan bantal minimal 2 minggu sekali.
b. Mencuci pakaian,  sprei,  sarung bantal,  selimut .
c. Mandi teratur dan menggunakan sabun
d. Hindari bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain atau keluarga .
e.  Hindari  kontak  dengan  orang-orang  atau  kain  serta  pakaian  yang dicurigai terkjangkit skabies.
f.  Menjaga kebersihan rumah .

 



Sabtu, 06 Agustus 2016

ERUPSI OBAT (ALERGI OBAT)

https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/obat-alergi-obat-gatal-erupsi.html

Erupsi obat atau ( allergic drug eruption ) itu sendiri adalah reaksi alergi yang melibatkan sistem imun tubuh kita terhadap obat dan metabolitnya  reaksi alergi pada kulit atau daerah mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat dengan cara sistemik.Reaksi yang dapat timbul biasanya berupa ruam kemerahan di kulit, Pengelupasan kulit, bahkan sampai terjadi SJS (Stevens-Johnson syndrome ) yang berujung pada kematian. 

Menurut  hasil penelitian Chatterjee  et al.  (2006), insidens erupsi obat alergi mencapai 2,66% dari total 27.726 pasien dermatologi selama setahun. Erupsi obat alergi terjadi pada 2-3% pasien yang dirawat di rumah sakit, tetapi hanya 2% yang berakibat fatal. Insidens erupsi obat alergi pada negara berkembang berkisar antara 1% – 3%. Hampir 45% dari seluruh pasien dengan erupsi di kulit merupakan kasus erupsi obat alergi. Insidens erupsi obat alergi lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria (Nayak & Acharjya, 2008)

FAKTOR RESIKO ( Erupsi Obat )
     1.   Jenis kelamin : Wanita lebih sering terkena dari pada pria
     2. Riwayat penyakit : riwayat penyakit seperti asma memiliki                                           resiko tinggi
     3. Genetik / keturunan : pada pasien dengan riwayat orang tua                                           memiliki alergi terhadap obat , akan jauh                                          lebih besar resikonya .
     4. Bentuk obat : Beberapa jenis obat seperti antibiotika beta                                    laktam dan sulfonamida memiliki potensial untuk                               mensensitisasi tubuh.
     5. Cara penggunaan obat : obat yang diaplikasikan secara                                                   kutaneus cenderung lebih menyebabkan                                         erupsi obat, Dosis dan durasi pemberian                                         obat juga berperan dalam timbunya                                                 erupsi alergi obat.

GEJALA KLINIS 
     1. Eritema (Kemerahan)
     2. Pruritus ( Gatal ) penyebab gatal biasanya karena lepasnya            histamin di kulit akibat proses inflamasi
     3.  Demam
     4.  Urtikaria  (benjol di kulit)
     5.  Perubahan warna kulit di tempat tertentu
     6.  Vesikel ( benjolan berisi air atau nanah )
     7.  Mengelupasnya kulit
https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/obat-alergi-obat-gatal-erupsi.html
Eritema / Kemerahan


https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/obat-alergi-obat-gatal-erupsi.html
Urtikaria

https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/obat-alergi-obat-gatal-erupsi.html
Kulit Mengelupas



JENIS OBAT
Menurut penelitian Saha  et al  (2012), jenis-jenis obat yang paling sering menyebakan erupsi obat alergi adalah

1.  sulfonamid yaitu sekitar 17%
2.  flurokuinolon sekitar 11,3%
3.  analgesik sekitar 11,3% (Paracetamol)
4.  anti epilepsi sekitar 11,3% (As. Valproat, phenitoin)
5.  allopurinol sekitar 7,5%
6.  azitromicin sekitar 5,70%.
7.  kotrimoksazole yaitu sekitar 22,2%
8.  inflamasi non steroid sekitar 18% (Anafen, Brufen, Motrin, Nurofen, Panafen)
9.  Antibiotik ( doxycycline dan tetrasiklin )
MENANGANI ERUPSI OBAT
Pengobatan erupsi / alergi obat biasnya sedikit sulit , karena kita tidak mengetahui penyebabnya .kecuali pasien mempunyai riwayat yang jelas dan sudah melewati tes kepekaan obat.
Pengobatan alergi obat ada 2 macam diantaranya
     1. Pengobatan kausal : dengan cara menghindari obat yang dapat      menyebabkan hal tersebut , termasuk golongan yang sama
     2. Pengobatan simptomatis :
Pada kasus reaksi anafilaktik syok , pasien harus segera di tangani segera dengan pemberian epineprin ,antihistamin dan kortikosteroid. Kemudian di evaluasi tiap 15 menit sampai membaik . Setelah pasien stabil kita hanya perlu menambahkan antibiotiK, obat gatal (antihistamin), dan analgesik.
PENCEGAHAN
Apabila penyebabnya sudah di ketahui sebaiknya hindari penggunaannya, dan meminta kartu alergi pada petugas kesehatan dimana nantinya akan berguna saat pasien menjalani pengobatan di rumah sakit , sehingga dapat di cegah pajanan ulang dari obat tersebut.



Selasa, 02 Agustus 2016

HERPES ZOSTER / CACAR ULAR


https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/herpes-zoster-cacar-ular-api.html


Herpes zoster yang sering disebut cacar ular / cacar api adalah infeksi virus yang yang di sebabkan oleh varicella zoster yang reaktivasi , biasanya pasien sebelumnya terkena penyakit varicella (cacar air) yang sudah sembuh tetapi virusnya masih bersembunyi di tubuh pasien tepatnya di jaringan saraf , kemudian aktif kembali sehingga menimbulkan gejala seperti nyeri dada . biasanya terkena pada usia 40th dan memiliki masa inkubasi 10 – 20 hari .

https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/herpes-zoster-cacar-ular-api.html


GEJALA KLINIS HERPES ZOSTER
Gejala klinis biasanya timbul nyeri dada pada awal gejala dan diikuti ruam kulit 2 – 3 hari kemudian , akan tampak vesikel bergerombol berwarna merah. Munculnya vesikel / bula berisi cairan biasanya terletak di dada hanya satu sisi / unilateral , dan di daerah punggung. Saat timbulnya vesikel biasanya disertai rasa nyeri terbakar di daerah tersebut, dan akan hilang 5 – 7 hari jika sistem imun pasien bagus.
Gejala gejala ringan yang akan timbul biasanya berupa demam , panas dingin, sakit kepala, letih , lesi, kelemahan otot, dan gatal

FAKTOR RESIKO
1. Usia di atas 40 tahun
2. Mempunyai riwayat cacar air / varicella sebelum usia 1 tahun
3. Memiliki penyakit HIV/AIDS yang menurunkan sistem imun
4. Menjalani kemoterapi atau terkena radiasi
5. Post transplantasi organ dan mengkonsumsi obat imunosupresan

PENGOBATAN
Pada dasarnya herpes zoster akan sembuh cepat jika penanganannya kurang dari 72 jam setelah gejala muncul, dan terbukti cukup efektif.
Cara mengobati herpes zoster harus sesuai dengan penyebabnya yaitu virus  jadi :
·      Obat antiviral saperti acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir sangat membantu penyembuhan penyakit ini
·      Obat anti inflamasi dan analgesik juga  berguna untuk mengurangi rasa nyeri dan peradangannya
·      Antihistamin berfungsi mengurangi rasa gatal (bila perlu)
·      Kompres dingin dan istirahat yang cukup akan mempercepat proses penyembuhan

Biasanya pasien herpes zoster akan sembuh dengan sendirinya selama pengobatan di jalani dengan baik dan pada beberapa kasus kurang dari 4% akan timbul PHN (post herpetic neuralgia) yang biasanya akan nyeri dan mati rasa sampai ke bagian wajah dan ini bisa terjadi 3 sampai 6 bulan.

JIKA INI TERJADI KONSULTASIKAN KE DOKTER SPESIALIS KULIT ANDA !!!

LEPRA (Morbus Hansen)



https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/lepra-morbus-hansen-kusta.html

Penyakit Lepra (Morbus Hansen) biasa dikenal dengan kusta adalah penyakit infeksi yang di sebabkan oleh mycobacterium leprae (M. leprae) yang menyerang saraf tepi kemudian dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, mata, otot, tulang dan testis kecuali susunan saraf pusat. Bisanya pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimtomatik atau tidak menimbulkan gejala berarti , tetapi akan menimbulkan gejala setelah proses yang panjang / kronis seperti , kelumpuhan dan putusnya jari tangan dan kaki.
https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/lepra-morbus-hansen-kusta.html
Mycobacterium Leprae
Penyakit kusta termasuk salah satu penyakit yang tersebar di seluruh dunia dan biasanya terdapat di daerah tropis dan subtropis seperti di Indonesia, India, Afrika dan Brazil . Penyakit ini dapat menyerang semua umur, dan biasanya kasus terbanyak pada umur antara 30-50 tahun dan lebih sering mengenai laki-laki dari pada wanita.
https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/lepra-morbus-hansen-kusta.html
Tempat penyebaran penyakit lepra

KLASIFIKASI LEPRA
Setelah seseorang didiagnosis menderita kusta,seteah itu kita harus menentukan jenisnya menurut manifestasi klinisnya ,hasil pemeriksaan bakteriologi, pemeriksaan histopatologi dan pemeriksaan imunologi. Proses klasifikasi juga membantu dalam menejemen pengobatan, prognosis, dan komplikasi.

Menurut Ridley dan Jopling membagi penyakit kusta berdasarkan klinisnya  yang terdiri atas :

§  TT: Tuberkuloid polar ( MASIH BAIK )
§  BT : Borderline tuberkuloid
§  BB : Mid Borderline
§  BL : Borderline lepromatous
§  LL : Lepromatosa polar ( BURUK )

Menurut WHO , Lepra di bagi menjadi 2 jenis :
1.    Pausi Basiler (PB) à TT dan BT
Klinis : a. bercak sedikit < 5, BTA negatif, letak asimetris tubuh, mati rasa di kulit, luka kasar dan kering, central healing
https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/lepra-morbus-hansen-kusta.html
tipe PB
2.  Multi Basiler (MB) à BB, BL dan LL
Klinis : bercak > 5, BTA positif, letaknya simetris antara sisi tubuh kanan dan kiri, luka halus mengkilat, mukosa positif ,ukuran macula kecil dan banyak, prognosisnya buruk.
https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/lepra-morbus-hansen-kusta.html
tipe MB
FAKTOR RESIKO LEPRA / KUSTA
Apakah penyakit lepra menular ? jawabannya iya , tetapi penularan  yang  pasti  belum  diketahui, beberapa pendapat ahli penularan bisa melalui saluran  pernapasan  (inhalasi) dan kulit  (kontak  langsung  yang  lama dan terus menerus dengan pasien. Diduga penularan juga melalui  air  susu  ibu. (Mansjoer dkk, 2000)
cara penularan melalui kontak langsung maupun tidak  langsung, melalui  kulit  yang  ada  lukanya  atau  lecet,  dengan  kontak  yang lama dan berulang-ulang. Anggota  keluarga  yang  tinggal  serumah  dengan  penderita  mempunyai resiko tertular lebih besar.( Entjang, 2000)
REAKSI LEPRA / KUSTA
1.  Reaksi Reversal
Penderita  lepra  dengan  tipe  MB  maupun  PB  dapat mengalami  reaksi  reversal .  1 dari 4 pasien memiliki resiko terkena reaksi ini.
Reaksi  reversal paling  sering  terjadi dalam enam bulan  setelah
mulai minum  obat. Reaksi  merupakan  tanda  penyakit  yang  sering  muncul  pertama  yang menyebabkan  penderita  datang  untuk  berobat.  Sebagian  kecil penderita  mengalami  reaksi  lebih  lambat,  baik  selama  masa pengobatan maupun sesudahnya.
2.  Reaksi  Erythema Nodusum  Leprosum (ENL)
Reaksi  biasanya muncul pada tipe LL karena reaksi ini menyerang sistem imun yang kebanyakan rendah pada penderita tipe LL. ENL  lebih  sering  terjadi pada masa pengobatan. Hal ini dapat terjadi karena banyak kuman lepra  yang  mati  dan  hancur,  berarti  banyak  antigen  yang dilepaskan  dan  bereaksi  dengan  antibodi,  serta  mengaktifkan sistem komplemen

PEMERIKSAAN PENUNJANG LEPRA
a.  Pemeriksaan bakteriostatik : BTA yaitu dengan menggunakan Ziehl-Neelsen. Bila hasilnya negatif bukan berarti penderita tersebut sehat , perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan mencocokkan klinisnya
b.  Pemeriksaan histopatologis : Pemeriksaan  histopatologi  pada  penyakit  lepra  dilakukan untuk memastikan gambaran klinik, misalnya lepra Indeterminate atau  penentuan  klasifikasi  lepra
c.  Pemeriksaan serologis
Pada pemeriksaan ini untuk mengetahui tingkat imunitas pasien tersebut
PENGOBATAN LEPRA /KUSTA
1.  Dapson
Efek samping yang mungkin timbul antara lain nyeri kepala, erupsi obat, anemia hemolitik, leukopenia, insomnia, neuropatia perifer, sindrom DDS, nekrolisis epidermal toksik, hepatitis, hipoalbuminemia, dan methemoglobinemia.
2.  Rifampisin
Efek samping yang harus diperhatikan adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, flu like syndrom, dan erupsi kulit.
3.  Lamprene
Efek sampingnya menyebabkan pigmentasi kulit, gangguan gastrointestinal (nyeri abdomen, nausea, diare, anoreksia, dan vomitus), dapat juga tertimbun di hati. Perubahan warna akan menghilang setelah obat dihentikan.
4.  Ofloksasin
Efek sampingnya adalah mual, diare, dan gangguan saluran cerna lainnya, berbagai gangguan susunan saraf pusat termasuk insomnia, nyeri kepala, dizziness, nervousness dan halusinasi.

Saat ini pemerintah sudah mengeluarkan obat Lepra dalam bentuk paketan untuk mempermudah penderita mengatur waktu mengkonsumsi dan lama pemakaian. Berikut cara mengobati obat Lepra yang benar :
1.  Lepra tipe PB
Jenis dan obat untuk orang dewasa  
Pengobatan bulanan : Hari pertama (diminum didepan petugas)
a.  2 kapsul Rifampisin 300 mg (600 mg)
b.  1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)
Pengobatan hari ke 2-28 (dibawa pulang)
a.  1 tablet dapson (DDS 100 mg)
       1 Blister / paket  untuk 1 bulan
Lama pengobatan : 6 Blister / paket diminum selama 6-9 bulan  !!! tidak boleh putus
https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/lepra-morbus-hansen-kusta.html

2.  Lepra tipe MB
Dosis dan cara pakai untuk orang dewasa :
Pengobatan Bulanan : Hari pertama (Dosis diminum di depan petugas)
a.  2 kapsul Rifampisin 300 mg (600 mg)
b.  3 kapsul Lampren 100 mg (300 mg) 
c.  1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)
Pengobatan Bulanan : Hari ke 2-28
a.  1 tablet Lampren 50 mg
b.  1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)
1 blister / paket untuk 1 bulan
Lama Pengobatan : 12 Blister diminum selama 12-18 bulan  !!! tidak boleh putus
https://doktertama.blogspot.co.id/2016/08/lepra-morbus-hansen-kusta.html

KESIMPULAN
Pada prinsipnya penyakit lepra (Morbus Hansen) bisa di sembuhkan, tetapi memang membutuhkan waktu yang lama dan harus ada support dari orang terdekat, jangan sampai penderita ini di jauhkan dari pergaulan dan sulit mendapatkan pekerjaan .
Penyakit lepra dapat menular melalui kontak jangka panjang (terus menerus), baik secara bersentuhan maupun melewati luka .
Pada pengobatan yang putus atau tidak sesuai aturan , biasanya pasien akan mengalami MDR ( multi drug resisten ), sehingga butuh konsultasi dengan dokter spesialis kulit yang bersangkutan.

HEMOROID

Hemoroid adalah suatu penyakit pelebaran atau dilatasi pembuluh darah (plexus hemoroidalis) pada dubur yang mengakibatkan iritasi dan me...